🪸 Siapakah Guru Pertama Al Ghazali Di Bidang Tauhid
Oleh Ulil Abshar Abdalla Dalam bait-bait pembuka Alfiyyah karya Ibn Malik (w. 672 H/1274 M), kita berjumpa dengan nama yang amat penting peranannya dalam Ulil Abshar Abdalla da 564 H (1168 M) di Bugia (dalam kitab-kitab "thabaqat", kawasan ini biasa disebut Bejaya), sebuah daerah yang berada di sebelah timur Al-Jazair saat ini. Ia meninggal di Kairo, Mesir, pada 628 H (1231). Dengan demikian
Haditsini pun dijabarkan pada bab terakhir dalam kitab ini. Al-Ghazali dalam kitab Misykat al-Anwar, menjelaskan secara rinci dan singkat tapi mendalam. Pembahasan pertama, al-Ghazali menjelaskan poin pemikirannya yang menegaskan bahwa cahaya hakiki adalah Tuhan, sedangkan cahaya yang disematkan pada selain Tuhan bukan cahaya yang sebenarnya.
Berlanjutkepada Ahmad Bafaqih Ba'lawi demi mengkritisi kajian Jauharah at-Tauhid buah karya Syaikh Ibrahim al-Laqani dan Minhaj al-Abidin karya Al-Ghazali. Masih di kota loenpia, Semarang-lah, Kitab Masa'il as-Sittin karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri, sebuah depiksi tentang ajaran dasar Islam populer di Jawa sekitar abad ke- 19, dicernanya
TOKOHILMUWAN MUSLIM PADA MASA BANI ABBASIYAH. 1. Ibnu Sina (370 H - 428 H / 980 M - 1037 M) Abu Ali Al-Husaini bin Abdullah bin Sina (Ibnu Sina) adalah seorang ahli kedokteran Muslim. Ia dilahirkan di Bukhara 370 H/980 M. Beliaau dibesarkan di lembah Sungah Daljah dan Furat, tepi selatan Laut Kaspia, kawasan Bukhara.
MuhammadAchsin, E012, Tauhid Sufistik (Konsep Tauhid Junayd al-Baghdadi), Skripsi, Akidah dan Filsafat Islam. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Ada dua persoalan yang dikaji dalam skripsi ini, yaitu (1) Bagaimana latar belakang lahirnya Tauhid Sufistik Junayd al-Baghdadi, (2
MengagungkanNasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak. mempunyai sanad Untuk menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab "Ihya' Ulumuddin" *PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM* 1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah.
Padausia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al- Juwaini(1028-1085) yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi (w. 1084) yang menjdi murid al-Imam al-Qusyairi (986-1072 M). Siapakah guru pertama al-Ghazali di
AlGhazali memiliki konsep ideal tentang pemimpin, yaitu pemimpin ahlak yang disebut pemimpin sejati. Pemimpin yang adil, serta memilikin ciri khas, penguasaan dalam bidang ilmu negara dan agama. Itu semua yang dapat mempengaruhi pola kepemimpinannya. Dikarenakan intlektual, agama, dan ahlak memiliki pengaruh besar terhadap pemimpin. Yang
Adayang belum kenal Siapa Imam Al-Ghazali? Untuk lebih mengenal lagi siapakah Imam Al-Ghazali? berikut adalah sejar
9jrq. - Biografi Imam Al-Ghazali mempunyai nama lengkap Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazali, ia adalah bapak tasawuf modern. Tokoh Islam yang lahir di daratan Iran ini sempat mempelajari ilmu tasawuf dan mengembangkannya. Al-Ghazali dilahirkan pada 1058 Masehi atau 450 Hijriah di Thus, Khurasan, Iran Sirajuddin, Filsafat Islam, 2007, hlm. 155. Terkait nama tokoh ini, diberikan sebagai bentuk pekerjaan ayah dan desa tempat kelahirannya. Ghazzali ternyata punya arti “tukang tenun atau tukang pintal benang”. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh kedua orang tua Al-Ghazali. Sementara itu, desa Ghazali merupakan wilayah tempat pria ini dilahirkan. Keduanya diklaim memiliki hubungan dalam pemberian nama. Terlepas dari nama besarnya, bagaimana profil singkat Imam Al-Ghazali yang merupakan bapak tasawuf modern? Biografi Imam Al-Ghazali Al-Ghazali hidup bersama kedua orang tua dan satu saudara. Menurut situs Layanan Dokumentasi Ulama dan Keislaman, Al-Ghazali bersama saudaranya menjadi anak yatim sejak usia dini dan dititipkan kepada teman mendiang ayahnya. Lebih lanjut dari itu, mereka berdua pun dirawat dan diberikan ajaran oleh orang yang dititipkan. Kemudian, Al-Ghazali bersekolah di madrasah lantaran harta peninggalan ayahnya sudah tak mampu untuk menutupi kebutuhan. Hal ini dilakukan oleh tokoh tasawuf bersama saudaranya lantaran disuruh oleh pengasuh. Akhirnya, mereka menjalankan perintah tersebut dan memperoleh tambahan ilmu dari sana. Pendidikan Imam Al-Ghazali Sejak usia dini, Al-Ghazali sudah memperoleh ilmu fikih dari guru bernama Syaikh Ahmad bi Muhammad Ar Radzakani. Pelaran tersebut didapatkannya kala masih tinggal di daerah Khurasan. Setelah itu, pria ini pergi ke Jurjan. Di kota baru ini, ia mempelajari ilmu lain dengan guru yang namanya Imam Abi Nashr Al Isma’ili. Bukan hanya belajar, ternyata ia juga sempat menulis sebuah buku berjudul At Ta’liqat. Pendidikan di sana usai, Ghazali pulang ke kampung halamannya. Di sana, ia berguru mengemban lagi pelajran dari guru yang sebelumnya pernah mengajarnya. Setelah itu, pergi ke Kota Naisabur. Di tempat baru ini, ia memperoleh berbagai macam ilmu baru dari Imam Haramin Al Juwaini. Di antaranya ada ilmu fikih mazhab Syafi’i, perdebatan, ushul, hikmah, logika, khilaf, dan filsafat. Pekerjaan dan Wafatnya Berdasarkan catatan situs An Nur Lampung, Al-Ghazali sempat ditunjuk menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah, Baghdad. Bahkan, ia juga sempat diangkat sebagai rektor di universitas dengan nama yang sama. Kala menjabat di pekerjaan tersebut, terdapat hasil buku atau karya yang telah dibuatnya. Di antaranya berisi tentang fiqih, ilmu-ilmu kalam, Ismailiyah, filsafat, dan sanggahan terhadap aliran kebatinan. Setelah usai dari pekerjaan di kota tersebut, Al-Ghazali pindah ke Mekkah lalu pergi lagi ke Damaskus. Di tempat terkakhir ini, Ghazali menghabiskan waktu hanya untuk beribadah atau mengikuti jalan sufi. Selepas dari sana, ia kembali ke Baghdad untuk mengajar. Setelah itu, baru kembali lagi ke kampung halamannya dengan menjalankan profesi yang sama. Yunasril Ali dalam Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam 1991, hlm. 57, menyebut bahwa Al-Ghazali wafat pada 1111 Masehi atau 505 Hijriah. - Pendidikan Kontributor Yuda PrinadaPenulis Yuda PrinadaEditor Yulaika Ramadhani
- Imam Al Ghazali mengambil peranan besar dalam perkembangan Islam. Sosok yang mencintai filsafat dan tasawuf ini menularkan pemikiran-pemikirannya ke seluruh sudut dunia Islam. Terlahir pada tahun 1058 atau 450 H di Iran, Imam Al Ghazali memiliki nama lahir Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Soal peletakan nama Imam Al Ghazali, hingga kini masih menjadi perdebatan pada ulama nasab. Ada yang mengatakan bahwa penggunaan nama ini berkaitan dengan tempat kelahiran Al Gazhali yaitu di daerah Ghazalah, lagi mengatakan bahwa penyandaran nama ini berkaitan erat dengan keluarganya, khususnya ayah Al Gazhali, yang bekerja menenun atau memintal bulu kambing di daerah Ghazalah. Baca juga Mengenalkan Anak pada Sejarah Islam di Pameran Artefak Nabi Muhammad SAW Mencintai filsafat sedari kecil Melansir dari laman Al Ghazali tumbuh dan besar di lingkungan keluarga miskin. Ayahnya hanyalah seorang pengrajin kain shuf, yaitu kain yang terbuat dari bulu kambing. Al Ghazali sering bercerita tentang kebaikan ayahandanya. Bahwa ayahnya adalah orang miskin yang shalih, yang tidak memakan apapun selain hasil dari pekerjaannya sendiri. Kompasiana Ilustrasi Imam Al Ghazali Dalam kehidupan yang serba terbatas, Al Ghazali mendapatkan pendidikan gratis dari beberapa orang guru. Dari sekolah gratis tersebut, Al Gazhali bisa fasih berbahasa Arab dan juga Parsi. Dari modal kemampuan membaca inilah, Al Ghazali melahap berbagai ilmu yang menarik minat dan perhatiannya. Dari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ilmu filsafat, ilmu fiqih, juga mempelajari empat mazhab hingga ia menguasai keseluruhannya. Al Ghazali sempat menepi ke Jurjan untuk menimba ilmu kepada Imam Abu Nashr Al Isma'ili dan menulis buku At Ta'liqat. Ia juga berguru ilmu fiqih kepada Ahmad ar-Razkani, dan berguru pada Imam Haramain di Naisabur tentang fiqih mazhab Syafi'i dan fiqih khilaf. Baca juga Sejarah Masjid Jami Kebon Jeruk, Saksi Bisu Penyebaran Islam dari Tiongkok Mahaguru di Madrasah An Nidzamiyah Setelah Imam Haramain wafat, Al Ghazali berpindah ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Di sana Al Ghazali sering berdebat dengan banyak ahli ilmu agama dan para ulama, dan selalu bisa memenangkan debat tanpa ada yang menyanggahnya kecerdasannya inilah, Nidzamul Malik langsung mengangkat Al Gazhali menjadi pengajar salah satu madrasahnya yang ada di Baghdad. Tepat di tahun 484 H itu, Al Gazhali resmi hijrah ke Baghdad untuk menjadi pengajar Madrasah An Nidzamiyah. Madrasah ini adalah universitas yang didirikan oleh perdana menteri Baghdad pada tahun 484 H. Selain sebagai pengajar yang setara maha guru, Al Ghazali juga dilantik sebagai Naib Kanselor di sekolah tersebut. Di tahun 489 H, Al Ghazali sempat masuk kota Damaskus beberapa hari dan bahkan diceritakan pernah memasuki Baitul Maqdis dan tinggal beberapa lama di sana. Di masa itulah, Al Ghazali menepi dan menyelesaikan penulisan kitab Ihya Ulumuddin. Selain buku yang paling ternama itu, Al Ghazali juga menyelesaikan penulisan Al Arba'in, Al Qisthas, dan kitab Mahakkun Nadzar. Baca juga 5 Fakta Menarik Tentang Masjid Al-Aqsa Sisa hidup di tanah kelahiran Al Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga rela meninggalkan kehidupan duniawi untuk mengembara mencari ilmu-ilmu baru ke Mekkah, Madinah, Mesir juga Yerusalem selama 10 tahun lamanya. Di akhir hidupnya, Al Ghazali pulang ke tanah kelahirannya dan mendirikan satu madrasah di samping rumahnya. Ia bahkan juga mendirikan asrama yang diperuntukkan untuk orang-orang Shufi. Al Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Qur'an, berkumpul dengan ahli ibadah juga mengajar para penuntut ilmu. Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan detil dari hari terakhir Al Gazhali dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat. Di kitab itu, Abul Faraj menukil kalimat terakhir saudara Al Ghazali, Ahmad Pada subuh hari Senin saudaraku Abu Hamid berwudhu dan salat kemudian berkata,"Bawa kemari kain kafan saya." Kemudian Al Ghazali mengambil dan mencium kain kafan itu sembari berkata,"Saya patuh dan taat untuk menemui malaikat maut." Al Ghazali lantas meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Dikatakan di kitab tersebut, sebelum langit menguning di tahun 1111 itu, Al Ghazali pergi menghadapi Sang Khalik. Baca juga Faktor Kemunduran Peradaban Islam Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Ibnu Sina banyak memiliki karya tulis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya tulisnya mencapai dua ratus buku. Sebagian pakar lainnya menyatakan bahwa karya tulisnya sekita seratusan Di antara karya-karya Ibnu Sina Kitab Al ÂSyifa Obat berupa ensklopedi filsafat; kitab AlÂQanun Fi alÂThib Praktek Kedokteran di bidang kedokteran; Kitab alÂNajah Keberhasilan ringkasan dari alÂSyifa dalam hal ketuhanan, logika dan ilmu alam serta karya-karya tulis lainnya. Akhir Ibnu Sina Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas dan kerja keras sehingga suatu hari ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. Di hari-hari menjelang wafatnya ia selalu memakai pakaian putih, mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin, memerdekakan budak serta giat beribadah kepada Allah Swt. Ia wafat pada tahun 428H/1037M di usia 58 tahun. VI. Proses Pembelajaran a. Persiapan 1 Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama. 2 Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. 3 Guru memotivasi peserta didik dengan kegiatan yang ringan, seperti cerita motivasi. 4 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 5 Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina 6 Beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca atau bisa juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya. 7 Metode yang digunakan adalah gallery work atau pameran berjalan. Metode ini bertujuan membangun kerjasama kelompok cooperative learning, siswa akan saling memberikan koreksi dan apresiasu dalam belajar. Metode ini dapat dikolaborasikan dengan metode diskusi. b. Pelaksanaan 1 Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada di kolom “Mari mengamati”. 2 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pengamatannya tentang gambar tersebut. 3 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pencermatan pengamatan siswa. 4 Guru meminta kembali siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “Mari Mengamati”. 5 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut. 6 Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut. 7 Siswa menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang keteladanan sifat alÂGhazali dan Ibnu Sina, secara klasikal atau individual. 8 Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keadaan kelas. 9 Guru memberikan kertas plano atau flip cart kepada masing-masing kelompok. 10 Guru menentukan tema atau topik pembahasan bagi masing-masing kelompok. 11 Siswa mendiskusikan tema atau topik yang sudah ditentukan 12 Siswa menempel hasil kerja kelompoknya di media tempel dinding 13 Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain 14 Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain. 15 Guru dan siswa melakukan koreksi bersama-sama 16 Guru mengklarifikasi dan menyimpulkan materi pembelajaran. 17 Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 18 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 19 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut. 20 Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman. 21 Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru a. meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian. b. membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku-perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina di lingkungannya Kolom tugas. VI I. Penilaian Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam a. Pengamatan diskusi. No. Nama siswa Aspek yang dinilai Skor Maks. Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut 1 2 3 T TT R P 1 Aspek dan rubrik penilaian 1. Kejelasan dan kedalaman informasi. a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan kedalaman informasi lengkap dan sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi lengkap dan kurang sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi kurang lengkap mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 2. Keaktifan dalam diskusi. a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi mengenai biografi al- Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 3. Kejelasan dan kerapian presentasi. a. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 40. b. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor30. c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan b. Kolom “Ayo Berlatih” 1 Kolom pilihan ganda dan uraian. a Pilihan ganda jumlah jawaban benar x 1 maksimal 10 x1 = 10. b Uraian Guru meminta siswa memberi tanda silang X pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar ! 1. Imam al-Ghazali dilahirkan di kota a. Yerusalem b. Thus c. Taheran d. Cairo e. Palestina 2. Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid… a. Al Juwaini b. Washil bin al Atha c. Abu Hasan al Asy’ari d. Ali al Juba’i e. Qadhi Abdul Jabbar 3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh… a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. tasawuf e. bahasa Arab 4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus… a. menuntut ilmu b. mencari nafkah c. menjadi menteri d. melakukan I’tikaf 5. Karya al-Ghazali yang paling monumental… a. Ihya Ulumuddin b. Mi’yar al ’ilmi c. Tahafut al Falasifah d. Arba’in fi Ushuluddin e. Qowaid alÂ’Aqa’id 6. Ibnu Sina dilahirkan di kawasan… a. Persia b. Bukhara c. Cairo d. Fes e. Khourtom 7. Di usia berapakah Ibnu Sina telah menghapal al Qur’an… a. 7 tahun b. 9 tahun c. 10 tahun d. 16 tahun e. 17 tahun 8. Di usia 16 tahun Ibnu Sina sudah menjadi… a. guru b. ulama c. filosof d. psikiater e. dokter 9. Seorang penguasa Bukhara yang disembuhkan oleh Ibnu Sina bernama... a. Jengis Khan b. Nuh ibn Manshur c. Yazid bin Muawiyah d. Muhammad II e. Musa bin Nushair 10. Karya Ibnu Sina yang berupa ensklopedi di bidang kedokteran. a. Kitab alÂNajah b. AlÂQanun Fi alÂThib c. AlÂSyifa d. AlÂDawa’ e. AlÂDa’ b Uraian Siswa menjawab pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat! 1. Jelaskan secara singkat sosok ayah al-Ghazali! 2. Jelaskan petualangan al-Ghazali dalam menuntut ilmu ! 3. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali di Nidzamiyah? 4. Apakah judul karya al-Ghazali yang menolak filsafat? 5. Di mana dan kapan al-Ghazali wafat ! 6. Sebutkan nama lengkap Ibnu Sina ? 7. Gelar apakah yang diberikan kepada Ibnu Sina? 8. Penyakit apa yang diderita Ibnu Sina sebelum wafat ! 9. Apakah Julukan untuk Ibnu Sina di barat ? 10. Di usia berapa dan kapan Ibnu Sina wafat ? Rubrik Penilaian No. Soal Rubrik penilaian Skor 1 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 4. c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 2 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 5 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 3 a. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 4 a. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 6 5 a. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 6 a. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 7 a. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 8 a. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan tidak lengkap , skor 5 10 9 a. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 Nilai Jumlah skor yang diperolehpilihan ganda dan Isian x 100 90 3 Tugas. Skor penilaian sebagai berikut. a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugas tepat pada waktu dan perilaku diamati serta alasannya benar, nilai 100. b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90. c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80. Catatan Selain diberikan tugas sesuai dengan yang ada di buku siswa, peserta didik juga diberikan tugas tidak terstruktur berupa portofolio. Mengetahui, ...,...20... Guru Agama Islam Orang Tua/Wali Siswa ... ... • Setiap karya siswa sesuai kompetensi dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu berkas tempat untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0-10 atau 0-100. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik, semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. Nilai akhir yang diperoleh oleh peserta didik adalah sebagai berikut. a. Rata-rata dari jumlah nilai pada kolom 1 kolom centang dan menyebutkan contoh ketentuan ¡alat berjama’ah dan kolom diskusi x 30 %. b. Jumlah nilai rata- rata pada kolom “Ayo berlatih” Pilihan ganda /uraian dan tugas x 30 %. c. Jumlah nilai pada kolom praktik ¡alat berjamaah x 40%. Nilai akhir = nilai a + nilai b + nilai c Kunci jawaban Penerapan Kebijakan guru. II. Pilihan ganda 1. B 2. A 3. D 4. D 5. A 6. B 7. C 8. E 9. B 10. C III. Uraian 1. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yangdihasilkan oleh jerih payahnya 2. Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al Ismaili1015-1085 M. Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al Juwaini1028-1085 yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi w. 1084 yang menjdi murid Imam Qusyairi 986-1072 M. Pada tahun 1091 M ia diundang oelh Nidzam al-Mulk 1063-1092 M untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi. 3. Menjadi guru besar 4. Tahafut al Falasifah 5. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thus dalam usia lima puluh lima tahun. 6. Nama lengkapnya Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina 7. Bergelar “AlÂSyaikh AlÂRa’is”. 8. Ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. 9. Avicena IV. Tugas Kebijakan guru. Saran Guru harus kreatif mengembangkan soal berikut rubrik dan penskorannya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan mengikuti langkah-langkah yang ada. Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan menelaani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina. Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan. IX. Remedial Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Meneladani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu sina”. Guru akan melakukan penilaian kembali lihat point 7 dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran 30 menit setelah jam pelajaran selesai. X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya. BAB VI AKHLAK TERPUJI I. Kompetensi Inti KI Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam, serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Mencoba, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan factual, konseptual, prosedural dan metagoknitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Mengolah, menalar, menyaji dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. II. Kompetensi Dasar KD Menghayati pentingnya nilai-nilai positif pada kompetisi dalam kebaikan fastabiqul Khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Membiasakan berperilaku dengan semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Menjelaskan pengertian dan pentingnya perilaku semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat. Optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. Menunjukkan contoh perilaku berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. III. Tujuan Pembelajaran Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan, diharapkan 1. Siswa dapat menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Siswa dapat menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Siswa dapat menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. IV. Indikator Pencapaian 1. Menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. V. Materi Pokok
siapakah guru pertama al ghazali di bidang tauhid